Jumat, 19 Juli 2013

Model Pembelajaran RTS

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan anak usia dini atau sering disebut sebagai PAUD diselenggarakan atas pemikiran bahwa pentingnya memberikan pondasi yang kuat pada anak sedini mungkin. Pemikiran ini timbul sebagai reaksi secara sadar bahwa usia dini (golden age) merupakan usia dimana anak-anak rentan dan mudah sekali menerima semua pengetahuan maupun keterampilan dari lingkungan sekitarnya. Setiap anak akan mencoba mengadaptasi segala pengetahuan yang diperolehnya selama bereksplorasi. Anak-anak dilahirkan ke dunia dengan membawa potensi berupa kecerdasan ganda. Kecerdasan tersebut sering dikenal sebagai Multiple Intellegences (MI). Seiring dengan perkembangannya, hanya beberapa kecerdasan saja yang dominan berkembang pada diri setiap anak. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor tersebut yaitu pendidikan yang diberikan pada anak sejak dini. Pemerintah telah menyadari akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini tersebut. Bentuk dari kepedulian pemerintah salah satunya dengan pengembangan pendidikan anak usia dini (PAUD). Permasalahan yang timbul di lapangan berkaitan dengan penyelenggaraan PAUD salah satunya adalah belum adanya model pembelajaran yang baku bagi anak usia dini. Selama ini setiap lembaga penyelenggara PAUD hanya berpedoman pada rambu-rambu yang disusun pemerintah mengenai penyelenggaraan PAUD di sekolah. Belum adanya pedoman yang baku ini memungkinkan adanya peluang bagi praktisi atau pemerhati pendidikan untuk mengembangkan suatu model pembelajaran yang sesuai bagi anak usia dini berdasarkan karakteristik siswa usia dini. Oleh karena karakteristik anak usia dini di antaranya berupa senangnya bereksplorasi dan bermain maka model pembelajaran yang dirancang sebaiknya melibatkan kedua aspek tersebut. Model pembelajaran Real Teaching Science (RTS) yang mengoptimalkan kegiatan eksplorasi terhadap fenomena alam yang sering ditemukan anak di lingkungan sekitarnya memungkinkan anak untuk mengembangkan seluruh potensi intelegensi ganda yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan model ini menuntut aktivitas anak untuk mencoba dan melakukan sendiri hal-hal yang merangsang rasa keingintahuannya. Apabila rasa keingintahuan anak disalurkan melalui suatu kegiatan yang sesuai maka diharapkan seluruh intelensi ganda pada anak dapat berkembang secara optimal.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah model pembelajaran Real Teaching Science yang dikembangkan dapat merangsang kecerdasan ganda anak usia dini.
2. Jenis kecerdasan apakah yang berkembang paling dominan melalui penerapan model pembelajaran Real Teaching Science.
C. Tujuan Penelitian
Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini maka dituangkan ke dalam dua tujuan pokok dari penelitian yaitu:
a. Untuk mengetahui ketercapaian model pembelajaran Real Teaching Science dalam merangsang kecerdasan ganda pada anak usia dini.
b. Untuk mengetahui jenis kecerdasan yang berkembang paling dominan melalui penerapan model pembelajaran Real Teaching Science.

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Implikasi Teori Inteligensi Ganda Bagi Pendidikan
1. Garis Besar Teori Inteligensi Ganda
Inteligensi yang berpusat pada struktur dan sensivitas jaringan syaraf belahan-belahan otak tertentu, merupakan sifat alami dan potensi manusia belajar yang tak terhingga. Mahayana ( dalam Nggermanto:2001) mengatakan itelek/inteligensi manusia jauh lebih luas dari yang disangka. Intelek manusia mempunyai dimensi yang tak terhingga. Ditandaskannya, intelek manusia kian hebat ini dapat terungkap dalam istilah yang mengatakan bahwa All children are born genios (seluruh anak dilahirkan sebagai genius), atau setiap bayi mempunyai potensi untuk menjadi Imago Dei (citra Tuhan) di muka bumi. Teori inteligensi ganda dikembangkan sebagai penjelasan kemampuan manusia belajar yang dapat tergantung pada tes empiris. Teori ini tampak melindungi sejumlah implikasi pendidikan yang cukup berharga untuk diperhatikan. Kecerdasan dipandang sekilas menggunakan lensa berbeda pada titik-titik perkembangan berurutan. Dalam tahap yang mengikuti, kecerdasan dihadapi lewat sistem simbol: bahasa bertemu dihadapi lewat kalimat dan cerita, musik lewat lagu, pemahaman ruang lewat lukisan, dan seterusnya. Ketika kemajuan berkembang, masing-masing kecerdasan bersama-sama dengan sistem simbol diwakili dalam sistem penulisan. Lebih dari 15 tahun, Dr. Howard Gardner. Profesor Pendidikan di Universitas Harvard, mealakukan riset inteligensi/ kecerdasan manusia, yang mematahkan mitos bahwa IQ tetap (terbawah sejak lahir dan tidak berubah sepanjang hidup seseorang), sekaligus menegaskan bahwa IQ hanya sebagian kecil dari kecerdasan manusia (Nggermanto, 2001; Amstrong, 2000). Ada variasi bentuk inteligensi, mencakup delapan tipe yang kini teridentifikasi oleh Gardner (Arends, 2001). Gardner mengungkapkan bahwa inteligensi sebetulnya tidak terbatas pada apa yang telah la identifikasi (masih terus berkembang), namun diyakininya bahwa teori inteligensi ganda yang is kemukakan kini memberikan jawaban kapasitas manusia yang jauh lebih akurat daripada teori inteligensi tunggal (IQ) yang kita kenal sebelumnya. Teori inteligensi ganda ini memperluas image yang berarti bagi potensi manusia dan upaya realisasi/ aktualisasinya secara optimal. Penelitian yang dilakukan Gardner menghasilkan teori inteligensi gandanya yang menguak tabir (profil atau spektrum) inteligensi manusia yang luas dari teori kepercayaan manusia sebelumnya, serta menghasilkan definisi tentang konsep inteligensi yang pragmatic dan menyegarkan. Campbell et al. (1996) mengemukakan, Gardner tidak memandang inteligensi manusia berdasarkan skor tes standar semata, tetapi ia menjelaskan/mendefinisikan inteligensi sebagai: kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia, kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang. Definisi pragmatis Gardner tentang inteligensi manusia ini, menegaskan hakekat teorinya. Mahayana (2001 dalam Nggermanto, 2001) mengemukakan, kesuksesan manusia hanya 4 % ditentukan oleh IQ-nya dan setidaknya 75% ditentukan oleh kecerdasan emosional (cerdas spiritual lebih berperan) Suparno (2004) menjelaskan, orang yang ber-IQ tinggi tetapi karena emosinya tidak stabil dan mudah marah, seringkali keliru dalam menentukan dan memecahkan persoalan hidup karena tidak dapat konsentrasi. Emosi yang tidak berkembang (kurang terolah), tidak terkuasai, sering membuatnya berubah-ubah dalam menghadapi persoalan dan bersikap terhadap orang lain, sehingga banyak menimbulkan konflik. Kiranya jelas bahwa model tes IQ hanya mengukur sesuatu yang lebih tepat disebut bakat bersekolah, sementara kecerdasan sejati mencakup berbagai ketrampilan yang jauh lebih luas (Amstrong, 1999). Inteligensi-inteligensi yang dikemukakan oleh Gardner mengandung sub-inteligensi. Campbell et al. (1996) mengemukakan bahwa inteligensi dalam domain musik misalnya, memiliki sub-sub meliputi: bermain musik, menyanyi, menulis pratitur musik, memimpin, memberikan kritik, dan menghargai musik. Masing-masing dari tujuh kecerdasan lainnya juga memiliki banyak komponen. Jika dihubungkan dengan model kecerdasan Quantum, maka kecerdasan matematis-logis dan linguistic biasanya dikenal sebagai IQ (Intellectual Quotient), sedangkan inteligensi intra personal dan interpersonal dimasukkan dalam rumpun EQ (Emotional Quotient-Emotional Intelligence), dan kecerdasan spiritual sebagai SQ (Spiritual Quotient), sementara AQ (Adversity Quotient) adalah kecerdasan merubah tantangan menjadi peluang (berkembang dalam tantangan) dari orang-orang sukses yang dominan dalam kecerdasan emosional dan spiritual (Nggermanto:2001). Aspek lain dari inteligensi ganda delapan ini adalah bahwa, mereka bisa dikonseptualisasikan ke dalam tiga kategori besar (Campbell et al.,1996), antara lain: (1) bentuk-bentuk inteligensi yang berkaitan dengan obyek (spasial, logika-matematika, kinestetik, naturalis), atau inteligensi yang kapasitasnya dikontrol dan dibentuk oleh obyek yang ada dalam kehidupan seseorang. (2) Inteligensi yang bebas dari obyek (verbal-linguistik, dan musical), yakni tidak dibentuk oleh dunia fisik tetapi tergantung pada sistem bahasa dan musik. (3) Inteligensi yang berkaitan dengan manusia (interpersonal dan intrapersonal), yang menunjukkan rangkaian perimbangan (counterbalance) yang kuat. Tabel 1. Deskripsi singkat Delapan Domain Inteligensi Ganda Intelegensi Kemampuan menonjol terikat Contoh orang 1 2 3 Linguistik verbal Mengerti urutan dan arti kata; Menjelaskan, mengajar, bercerita, berdebat; Humor; Mengingat dan menghafal; Analisis linguistic; Menulis dan berbicara; Main drama, berpuisi, berpidato; Mahir dalam perbendaharaan kata. Dramawan, Editor, Pengarang, Jurnalis, Sastrawan, Operator Matematis-Logis Klasifikasi dan kategorisasi; Abstraksi, simbolisasi; Pemikiran induktif dan deduktif; Reasong, pola sebab akibat; Berhitung dan bermain angka; Pemikiran ilmiah; problem solving; silogisme. Logikus, Matematikus, Saintis, Programmer. Ruang Spatial/Visual Mengenal relasi benda-benda dalam ruang dengan tepat; Mmepunyai persepsi yang tepat dari berbagai sudut; Representasi grafik; Manipulasi gambar, Menggambar; Mudah menemukan jalan dan ruang; Imaginasinya aktif; Peka terhadap warna, garis, bentuk. Pemburu, Arsitek, Dekorator, Navigator. Kinestetik Badani Mudah ekspresi dengan tubuh; Mengaitkan pikiran dan tubuh; Kemampuan main mimic; Main drama, role playing; Aktif bergerak, sport; Koordinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi. Aktor, Atletik, Penari, Pemahat, Ahli Bedah, Sportmen dan sportwomen. Musikal, Ritmis Kepekaan terhadap suara dan musik; tahu struktur musik dengan baik; Mudah menangkap musik; Mencipta melodi; Peka terhadap intonasi, ritmik; Menyanyi, pentas musik. Musikus, Penyanyi, Pemain opera, Komponis. Interpersonal Mudah kerjasama dengan teman; Mengenal dan mudah membedakan perasaan pribadi teman; Komunikasi verbal; Peka terhadap teman, empati; Suka memberikan feedback. Komunikator, Fasilitator, Penggerak massa/politisi, Guru, Wirausahawan. Intrapersonal Dapat berkonsentrasi diri dengan baik; Kesadaran dan ekspresi perasaan yang berbeda; Pengenalan diri yang dalam, Keseimbangan diri; Kesadaran akan realitas spiritual; Reflektif, suka kerja sendiri. Ahli agama, Ahli filsafat, Psikolog, Konselor, Terapis. Naturalis Berpikir dalam acuan alam; Mampu mengenal bentuk-bentuk alam di sekitarnya (burung, bunga, pohon, hewan dan fauna serta flora lain); Kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam lain (ciri geologi bumi, awan misalnya); Peka terhadap bentuk-bentuk budaya populer (sepatu kanvas, sampul CD, model mobil, dll); Memperlihatkan kesadaran ekologis. Ahli biologi, Penjaga hutan, Hortikulturis, Nelayan, Dokter hewan, Ekolog, dll Sumber : Gardner (1993), Suparno (2000), Amstrong (1999,2000) Di era persaingan informasi dan globalisasi dengan kecenderungan perubahan yang demikian pesat ke depan, nasehat terbaik untuk meningkatkan daya saing menurut Amstrong (1999) adalah, jangan menitikberatkan perhatian anda pada salah satu inteligensi. Sebab bisa saja pada saat anda baru menguasainya, kecerdasan tersebut sudah "ketinggalan Jaman". Perhatikan kecenderungan teknologi terdepan, seperti hypertext dan piranti lunak komputer multimedia, yang terus menggabungkan kecerdasan (menuju teknologi konvergensi) dengan cara kreatif, untuk menangkap isyarat betapa pentingnya mengembangkan beberapa inteligensi sekaligus dalam waktu bersamaan. Dengan demikian, inteligensi ganda adalah merupakan salah satu strategi belajar (dengan aneka metode) penyelesaian masalah yang efektif untuk menghadapi kehidupan nyata (Campbell:1996). Termasuk rekonsiliasi dari penyelesaian konflik sosial berkelanjutan menurut penulis. Amstrong (2004) menegaskan, Inteligensi ganda juga membantu anda lebih memahami serta lebih damai dengan orang-orang di sekelilingmu. Dikatakannya melalui teori ini kamu akan belajar bahwa semua orang mempunyai kekuatan serta ide yang berbeda-beda tentang bagaimana mengerjakan segalanya, yang akan memudahkanmu untuk memahami mereka, dan bahkan belajar dari mereka (kecerdasan hidup interpersonal). Suparno (2004) menambahkan, orang yang mempunyai inteligensi intrapersonal menonjol, dapat mengatur perasaan dan emosinya sehingga kelihatan sangat tenang (dewasa tanpa emosi yang meluap-luap). Orang yang ber-IQ tinggi dengan emosi yang stabil dan tidak mudah marah, tidak keliru dalam menentukan/memecahkan persoalan hidup karena dapat berkonsentrasi. Kompetensi/inteligensi manusia adalah multidimensional dan bersifat ganda atas majemuk, sebagai realisasi/aktualisasi potensi otak (kiri dan kanan) manusia secara penuh atau seimbang, dan patut dikembangkan sejak pendidikan dasar di Indonesia. Urgensi pembelajaran dengan setting inteligensi ganda ini dapat terjawab ii teori inteligensi ganda Gardner, yang merupakan basil dan riset bertahun-tahun sejak 1979 di Harvard Graduate Schools of Education (didanai oleh Yayasan Berhard Van Leer dari Den Haag), dengan topik utama: sifat alami dan realisasi potensi manusia, khususnya sifat alami manusia belajar. Teori baru Gardner ini telah diakui dunia sebagai suatu teori belajar yang paling inovatif (Amstrong, 2000); dan akhir-akhir ini banyak mempengaruhi model kurikulum pembelajaran, evaluasi, pengaturan kelas, pendidikan nilai, dan sekolah individual pada banyak negara maju Suparno, 2004).
2. Inteligensi Ganda dan Pendidikan Berkelanjutan Model pendidikan berkelanjutan ke depan, terbukti sejalan dengan strategi intelegensi ganda. Sehingga teori inteligensi ganda telah menjadi kerangka kerja dalam aktivitas pengajaran dan pembelajaran yang diberikan pada sepuluh tahun terakhir, dan merupakan redefenisi dari tujuan pendidikan (Campbell:1996). Mengingat manusia memiliki kemampuan yang tiada terbatas untuk berkembang, dan melalui teori tentang multiple (delapan) intelligences, pembelajaran dapat memberlakukan berbagai metode yang memiliki peluang jamak dan saluran jamak dalam proses pendidikan itu sendiri, dimana hak individu pebelajar untuk berpartisipasi sesuai kemampuannya dapat terpenuhi (Semiawan:2000) Teori inteligensi ganda karya Gardner menawarkan pandangan yang lebih luas tentang kecerdasan manusia dan kesinambungannya yang dapat dikembangkan seumur hidup, membuka kesempatan dan tantangan baru bagi pendidikan (Deporter dkk:1999). Dijelaskan bahwa dengan memasukkan kecerdasan ganda ke dalam isi dan perencanaan pengajaran, kita membantu siswa secara otomatis mendapatkan banyak makna dan rangsangan otak dalam proses belajar mereka, sekaligus memberi mereka lebih banyak variasi dan kesenangan, serta mengembangkan dan memperkuat kecerdasan mereka. Gardner (1993) mengatakan, seorang guru yang terampil adalah orang yang dapat membuka sejumlah jendela atau pintu masuk yang berbeda mengenai konsep yang sama sewaktu mengajar dengan seting inteligensi ganda, Semiawan (2000) menegaskan, tugas pendidikan adalah membuka kemampuan (unlock the capacity) yang dimiliki seseorang seoptimal mungkin melalui sharing of information untuk menjadi manusia yang bukan saja pintar, tetapi juga kreatif, kritis dan memiliki ketahanan mental yang tinggi. Atau kecerdasan berkembang dalam tantangan, dengan merubah tantangan menjadi peluang sukses. Dengan demikian, di dalam proses belajar-mengajar, guru harus memiliki agar siswa dapat belajar efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Kemasan strategi belajar ini menunjuk pada keseluruhan prosedur yang ditempuh oleh guru dan siswa yang memungkinkan atau memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan tertentu (Hamalik:2001). Kegiatan belajar-mengajar dengan pendekatan keterampilan proses berdasarkan inteligensi ganda yang dikemas dalam kelompok kecil (kooperatif) siswa yang berkemampuan berbeda akan melatih keterampilan-keterampilan khusus sesuai intelegensi yang dimiliki untuk membantu mereka bekerja sama dengan baik. Sehingga baiknya mengemas strategi belajar dengan metode yang memberikan peluang jamak saluran jamak (Semiawan:2000), menggunakan multinilai dan multikebenaran (Suparno:2000), asesmen altematif (Amstrong:2000; Ibrahim:2002). Sehingga pelaporan hasil ujian berbentuk profil kemampuan/prestasi siswa dalam bidang tertentu yang mencakup aspek kognitif-psikomotor-afektif. Pengembangan strategi belajar inteligensi ganda yang demokratis penting dan mendasar dalam konteks implementasi pembelajaran bagi PAUD. Mengingat, proses belajar-mengajar atau proses pengajaran merupakan satu kegiatan melaksanakan suatu kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan (Sudjana:2001). Berupa kemampuan dasar dalam pembelajaran dan indikatornya, Gardner (1993) menegaskan bahwa seorang guru yang efektif hendaknya berfungsi sebagai "pialang/perantara siswa-kurikulum”.
B. Model Pembelajaran Real Teaching Science Model pembelajaran Real Teaching Science merupakan jenis model pembelajaran yang berusaha mengoptimalkan segala fenomena nyata di lingkungan sekitar tempat tinggal siswa sebagai media pembelajaran. Media ini dipilih karena paling mudah ditemukan siswa dan Bering dilakukan bahkan menjadi bagian dari aktivitas keseharian siswa. Model pembelajaran ini diawali dengan pemberian informasi oleh guru mengenai fenomena alam yang terjadi di sekitar siswa. Fenomena tersebut dipilih berdasarkan karakteristik dan substansi mated yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. Informasi guru dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi oleh siswa di luar kelas berupa observasi terhadap media nyata. Siswa diminta mengamati dan mengingat segala hal yang menarik perhatiannya berhubungan dengan informasi yang diberikan oleh guru. Kegiatan dapat berupa menggolong-golongkan, membedakan dan mendemonstrasikan sesuatu. Fase akhir dari model pembelajaran RTS berupa diskusi dan pemaparan hasil eksplorasi oleh setiap siswa. Pada fase ini siswa diberi kesempatan mengembangkan keterampilannya dalam menyampaikan pendapat maupun keterampilan berkomunikasi.
 C. Perkembangan Selama Anak-anak Anak-anak dapat disebut pra sekolah apabila mereka berusia antara 3 dan 6 tahun. Inilah waktu terjadinya perubahan cepat dalam seluruh daerah perkembangan. Anak-anak menuntaskan hampir seluruh keterampilan motor menjelang akhir periode ini dan dapat menggunakan keterampilan-keterampilan fisiknya untuk mencapai berbagai macam tujuan. Secara kognitif, mereka mulai mengembangkan pemahaman tentang klasifikasi dan hubungan serta menyerap sejumlah besar informasi tentang dunia fisik dan sosial mereka. Menjelang usia 6 tahun, anak-anak hampir sepenuhnya fasih berbicara, tidak hanya menyatakan keinginan dan kebutuhan mereka, tetapi juga berbagi ide dan pengalaman mereka. Secara sosial, anak-anak belajar perilaku dan aturan-aturan yang sesuai dan semakin lama semakin dapat menyesuaikan diri saat berinteraksi dengan anak-anak lain. Tabel berikut ini menunjukkan usia kapan anak-anak pada umumnya mencapai berbagai keterampilan motor. Tabel 2. Perkembangan Motor Anak-anak Prasekolah Usia Keterampilan 2 tahun Berjalan dengan dua kaki renggang, dan langkah gontai. Dapat memanjat, mendorong, menarik, lari, bergelantungan dengan dua tangan. Memiliki daya tahan kecil. Menggapai objek dengan dua tangan. 3 tahun Dapat menjaga kedua kaki lebih rapat pada saat berjalan dan berlari. Dapat berlari dan berjalan lebih lancar. Menggapai satu objek dengan satu tangan. Mencoreng-coreng dan memulaskan cat; menyusun balok-balok. 4 tahun Dapat mengubah-ubah kecepatan lari. Melompat-lompat dengan kikuk. Memiliki kekuatan, daya tahan, dan koordinasi yang lebih besar. Menggambar bentuk-bentuk dan gambar-gambar sederhana; membuat lukisan; menggunakan balok-balok untuk membentuk berbagai bangun. 5 tahun Dapat berjalan di atas balok kesetimbangan. Meloncat-loncat dengan lancar; berdiri pada satu kaki. Dapat menangani kancing dan resliting; dapat mengikat tali sepatu. Menggunakan perkakas dan alat dengan benar. Sumber: Slavin (1997) Pada saat setiap aspek perkembangan tersebut dibahas, perlu diingat selalu bahwa perkembangan mengandung sejumlah unsur yang pelik dan bagaimana seluruh aspek pertumbuhan anak saling berhubungan. Meskipun perkembangan fisik, kognitif, dan sosial dapat dibahas dalam bab-bab terpisah dalam sebuah buku, dalam kehidupan nyata ketiga hal itu tidak hanya saling mempengaruhi namun juga dipengaruhi oleh lingkungan dimana anak-anak tumbuh.
BAB III METODE PENELITIAN
A. Desain dan Setting Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan atau Research and Development (R & D). Adapun desain penelitian yang digunakan mengadopsi model pengembangan Thiagarajan & Semmel (1974) yaitu model 4D (define, design, develop dan disseminate). Keempat tahap ini diterapkan di sekolah untuk anak usia dini yaitu Taman Kanak-kanak. Adapun sebagai subjek penelitian adalah anak-anak siswa TK Masjid Syuhada Kodya Yogyakarta.
B. Prosedur Pengembangan Pengembangan dimulai dengan tahap define, tahapan ini merupakan pendefinisian kebutuhan-kebutuhan apa saja yang diperlukan bagi pengembangan model pembelajaran Real Teaching Science. Pendefinisian dilakukan dengan observasi awal di lokasi tempat akan dilakukannya penelitian. Pada tahap ini juga dilakukan identifikasi kebutuhan siswa dan kebutuhan pelaksanaan pembelajaran di lapangan termasuk di dalamnya perangkat pembelajaran apa saja yang dibutuhkan selama pembelajaran. Tahapan selanjutnya adalah design, tahapan ini berisikan serangkaian. Kegiatan dalam rangka merancang model yang diinginkan. Kegiatan yang dilakukan berupa seleksi format dan seleksi substansi materi yang akan digunakan selama pembelajaran menggunakan model pembelajaran Real Teaching Science. Format dapat diadopsi dari beberapa model pembelajaran yang telah ada dan dikembangkan sesuai dengan kondisi lapangan sesungguhnya dalam rangka mengembangkan kecerdasan ganda siswa anak usia dini. Adapun substansi materi disesuaikan dengan standar materi siswa Taman Kanak-kanak. Develop merupakan tahapan setelah format model pengembangan berhasil dirancang pada tahapan sebelumnya. Pada tahap ini dilakukan pengembangan lebih lanjut terhadap rancangan yang telah dihasilkan. Pengembangan meliputi proses maupun produk. Tahapan ini dilaksanakan dalam rangka mendapatkan draft awal model pengembangan yang akan digunakan pada uji coba lapangan. Draft awal hasil pengembangan selanjutnya diujicobakan pada kelas sesungguhnya melalui tahap disseminate. Tahapan ini merupakan disseminasi terbatas terhadap rancangan model pembelajaran yang telah dikembangkan. Hasil disseminasi digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki rancangan model pembelajaran yang telah dikembangkan. Adapun mekanisme pelaksanaan penelitian dalam rangka ketercapaian tujuan penelitian ini dapat digambarkan dalam diagram alir sebagai berikut: Gambar 1. Diagram Alir Rancangan Pengembangan Model Pembelajaran RTS untuk Pre School Students.
C. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lembar kegiatan Aktivitas siswa, Lembar Pengamatan Kecerdasan Ganda dan Lembar Keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Semua instrumen ini divalidasi dengan menggunakan content validation.
D. Metode Pengumpulan Data dan Teknik Analisis Data Data dalam penelitian mi berupa serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh siswa selama pelaksanaan model pembelajaran Real Teaching Science. Oleh karena itu data dikumpulkan dengan metode observasi dan wawancara secara langsung terhadap subjek penelitian. Oleh karena subjek penelitian adalah siswa Taman Kanak-kanak maka model wawancara disesuaikan dengan karakteristik siswa. Seluruh data yang diperoleh dari kegiatan observasi maupun wawancara seianjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Data dianalisis berdasarkan kode ketercapaian pengembangan setiap komponen kecerdasan yang dimiliki oleh siswa.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama semester ganjil tahun akademik 2010/2011. Oleh karena desain penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan maka data diperoleh pada tahap disseminasi terbatas. Disseminasi dilaksanakan di kelas Kecil Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada. Banyaknya siswa yang terlibat adalah 15 anak. Kelas Kecil identik dengan Kelompok Bermain di beberapa sekolah Taman Kanak-kanak lainnya. Hasil observasi terhadap analisis kebutuhan siswa diperoleh bahwa substansi materi yang sesuai dengan materi sains di Pendidikan Anak Usia Dini adalah mengenal alam sekitar. Wawancara dengan guru di sekolah menunjukkan bahwa substansi materi ini dapat dikembangkan oleh guru menjadi mengenal fenomena alam di sekitar tempat tinggal siswa dalam rangka mensyukuri kebesaran ciptaan Tuhan. Selanjutnya, peneliti bersama guru mendeskripsikan bentuk penugasan untuk siswa yang disesuaikan dengan arah identifikasi multiple intelegensi. Tabel berikut ini merupakan jenis-jenis penugasan yang telah dikembangkan oleh peneliti bersama guru kelas: Tabel 3. Bentuk-bentuk Penugasan dalam Pembelajaran Real Teaching Science Intelegensi Kriteria Ketuntasan Perkembangan Penugasan 1 2 3 Linguistik verbal Bercerita dan mahir dalam perbendaharaan kata. Siswa diminta menceritakan apa yang dilakukannya ketika di luar rumah sedang terjadi hujan Matematis-Logis Klasifikasi dan kategorisasi; Berhitung sederhana - Siswa diminta membuat klasifikasi dan kategorisasi terhadap bentuk-bentuk benda di sekitarnya misalnya berbagai bentuk buah-buahan (bulat, kotak, runcing dan tumpul). - Siswa diminta berhitung sederhana dengan menyebutkan beberapa jumlah organ tubuh misalnya mata, hidung, tangan melalui lagu Ruang Spatial/Visual Menggambar dan peka terhadap warna, garis, bentuk. Siswa diminta mewarnai gambar dengan diberi kebebasan memilih jenis warna yang akan digunakan Kinestetik Badani Mudah ekspresi dengan tubuh; kemampuan main mimik dan aktif bergerak Siswa diminta menirukan gerak beberapa binatang. Musikal, Ritmis Menyanyi Siswa diminta menyanyikan sebuah lagu di depan kelas Interpersonal Mudah kerjasama dengan teman dan Komunikasi verbal Siswa diberi game atau permainan yang dimainkan secara berkelompok Intrapersonal Dapat berkonsentrasi diri dengan baik; Siswa diberikan puzzle tentang gambar binatang kemudian dminta menyusunnya agar diketahui nama binatang tersebut Naturalis Mampu mengenal bentuk-bentuk alam di sekitarnya (burung, bunga, pohon, hewan dan fauna serta flora lain) Siswa diminta menyebutkan bentuk bunga, bagian-bagian pohon dan hewan Berikut akan disajikan beberapa temuan selama proses pembelajaran dilakukan baik di dalam dan atau di luar kelas: Tabel 4. Temuan-temuan aktivitas siswa selama pembelajaran Intelegensi Bentuk Penugasan Temuan 1 2 3 Linguistik verbal Siswa diminta menceritakan apa yang dilakukannya ketika di luar rumah sedang terjadi hujan Seluruh sisw a dapat melakukan penugasan ini dengan baik Matematis-Logis - Siswa diminta membuat klasifikasi dan kategorisasi terhadap bentuk-bentuk benda di sekitarnya misalnya berbagai bentuk buah-buahan (bulat, kotak, runcing dan tumpul). - Siswa diminta berhitung sederhana dengan menyebutkan beberapa jumlah organ tubuh misalnya mata, hidung, tangan melalui lagu - Kategorisasi mengenai bentuk benda belum sepenuhnya dipahami oleh siswa ( ada siswa menyebut bentuk bulat dengan istilah lingkaran) - Berhitung sederhana terhadap jumlah beberapa organ tubuh masih terbatas pada mengikuti instruksi guru dan belum dipahami dengan benar Ruang Spatial/Visual Siswa diminta mewarnai gambar dengan diberi kebebasan memilih jenis warna yang akan digunakan Siswa lebih dominan untuk memilih warna-warna yang lebih terang dan menyolok Kinestetik Badani Siswa diminta menirukan gerak beberapa binatang. Seluruh siswa mampu menyelesaikan penugasan meskipun ditemukan jenis gerakan yang sama ditirukan oleh lebih dari dua orang Musikal, Ritmis Siswa diminta menyanyikan sebuah lagu di depan kelas Siswa menyelesaikan penugasan jenis ini dengan sangat baik Interpersonal Siswa diberi game atau permainan yang dimainkan secara berkelompok Kerja sama antar siswa masih rendah, siswa memilih anggota kelompok dengan siswa tertentu saja Intrapersonal Siswa diberikan puzzle tentang gambar binatang kemudian dminta menyusunnya agar diketahui nama binatang tersebut Keterampilan untuk berkonsentrasi masih belum berkembang dengan baik Naturalis Siswa diminta menyebutkan bentuk bunga, bagian-bagian pohon dan hewan Siswa masih mengalami kesulitan mengungkapkan bentuk benda-benda di sekitarnya
B. Pembahasan Penelitian
 ini merupakan penelitian pengembangan atau research and development (R & D). Pengembangan model pembelajaran dilakukan dengan model 4D meliputi define, design, develop dan disseminate. Tahap define merupakan tahap pendefinisian kebutuhan yang dilakukan dengan analisis kebutuhan (need analyze). Hasil pendefinisian ini diterjemahkan ke dalam identifikasi kebutuhan. Tahapan berikutnya berupa design atau perancangan model yang berupa seleksi format, pemilihan rancangan dan penyeleksian rancangan awal dari suatu model yang akan dikembangkan. Desain awal ini selanjutnya dikembangkan melalui tahap develop. Tahapan tersebut terdiri dari serangkaian kegiatan mengembangkan model yang diinginkan dengan memperhatikan seluruh komponen yang terkait. Produk pengembangan selanjutnya didisseminasikan dalam tahap disseminate yaitu uji coba produk ke lapangan melalui disseminasi terbatas. Hasil dari tahap pendefinisian diperoleh serangkaian bentuk penugasan yang akan diberikan kepada peserta didik. Serangkaian bentuk penugasan diberikan secara integratif artinya beberapa jenis komponen intelegensi diberikan secara bersamaan, misalnya intelegensi matematis logis dengan musikal ritmis serta kinestetik badani. Hal ini dikarenakan bentuk penugasannya diberikan oleh guru melalui ajakan menyanyi sekaligus melakukan gerakan dan menyebutkan jumlah tertentu. Temuan-temuan dalam Tabel 4 menunjukkan bahwa pembelajaran model Real teaching Science telah berhasil merangsang perkembangan multiple intelegensi siswa. Namun demikian, baru beberapa jenis intelegensi yang berkembang secara optimal. Adapun intelegensi yang dominan berkembang adalah linguistik verbal, ruang spatial/visual, kinestetik badani dan musikal ritmis. Temuan ini dapat digunakan bagi guru untuk lebih mengarahkan dan menemukan jenis latihan agar intelegensi lainnya dapat berkembang dengan optimal pula.
 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi dan analisis terhadap data/temuan-temuan selama pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat disimpulkan bahwa: 1. Pembelajaran model Real Teaching Science telah berhasil merangsang berkembangnya multiple intelegensi siswa usia dini 2. Kecerdasan yang paling dominan berkembang meliputi linguistik verbal, ruang spatial/visual, kinestetik badani dan musikal ritmis.
 B. Saran
Agar model pembelajaran Real Teaching Science dapat lebih optimal diselenggarakan di sekolah PAUD maka beberapa pertimbangan berikut sebaiknya diperhatikan sebelum mengimplementasikannya di kelas, antara lain: 1. Guru diharapkan selalu membaga alat peraga sebab penggunaan alat peraga sangat membantu dalam mendekatkan peserta didik terhadap fenomena alam di sekitar anak 2. Untuk lebih mengaktifkan psikomotorik anak sebaiknya model ini diintegrasikan dengan outdoor activities. DAFTAR PUSTAKA Amstrong, T 1999. 7 Kinds Of Smart: Identifying and Developing Your Multiple Intelligences. Penguin Putnam Inc. Edisi Indonesia. Alih Bahas T. Hemaya, 2002. 7 Kinds Of Smart: Menemukan dan Meningkatkan Kecerdasan Anda Berdasarkan Teori Multiple Intelligence. Jakarta: PT. Gramedia. Arends, R.I. 2001. Learning to Teach. 5th edition. New York: Me Graw-Hill Copanies Inc. Gardner, H. 1993. Multiple Intelligences: The Theory in Practice. New York: Basic Books. Edisi Indonesia. Alih Bahasa Sindora, A. Ibrahim, M. 2002. Asesment Alternatif/Alternate Assessment (Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi: Model Bio C-02). Kemp, J. Morrison, G.R., Ross, S.M. 1994. Designing Effective Instruction. New York: Merrill. Slavin, R.E. 1997. Educational Psychology Theory and Practice. USA: Allin & Bacon Suparno, P. 2000. Teori Inteligensi Ganda Dalam Pembelajaran Fisika Di Sekolah Menengah. Dalam Atmadi, A., Setiyaningsih, y. Transformasi Pendidikan Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta: Kanisius. Thiagarajaan, S., Semmel. D.S.,& Semmel, M.I. 1974. Instructional Development for training teacher of Exceptional Children a Sourcebook. Bloomington: Center for Innovation on teaching the Handicaped. Towns. M.H & Grant. E.R. 1999. I Believe I Will Go Out Of This Actually Knowig Something; Cooperative Learning Activities in Physical Chemistry; Journal Of Research In Science Teaching; Correspondence to: M. Hamby Towns. Veenema, S. and Gardner, H. 1996. Multimedia and Multiple Intelligences. Diakses melalui http://www.prospect.org/print/v7/29/veenema-shtml, tanggal 4 Desember 2006.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar